, Indonesia
610 views
President Director at PGE, Ahmad Yani

PGE mulai proyek rendah karbon di Banten

Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang 1 gigawatt dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) telah memulai pengerjaan proyek energi rendah karbon di terminal liquefied petroleum gas (LPG) di provinsi Banten, ujung barat Pulau Jawa, memperluas pemanfaatan energi panas bumi tidak hanya untuk pembangkit listrik, tetapi juga ke fasilitas penyimpanan dan distribusi bahan bakar.

Direktur Utama Ahmad Yani mengatakan proyek ini merupakan bagian dari rencana perusahaan milik negara yang telah melantai di bursa tersebut untuk memangkas emisi dengan menghubungkan produksi panas bumi ke lokasi-lokasi energi strategis.

“Kick-off Green Terminal Tanjung Sekong merupakan wujud nyata integrasi panas bumi ke dalam rantai nilai energi hilir,” katanya dalam balasan tertulis melalui email. “Kami memastikan panas bumi mendukung operasi energi strategis, bukan hanya produksi listrik.”

Inisiatif ini akan memanfaatkan hidrogen hijau yang diproduksi dari lapangan panas bumi Ulubelu milik PGE di provinsi Lampung, Sumatra bagian selatan. Hidrogen tersebut merupakan bagian dari program percontohan yang mencakup produksi, distribusi, dan pemanfaatan energi rendah karbon.

Berdasarkan rencana tersebut, hidrogen akan membantu memasok listrik di terminal LPG Tanjung Sekong. PGE menargetkan sumber energi rendah karbon dapat memenuhi sekitar 25% dari konsumsi listrik terminal pada tahap awal.

“Target 25% ini merupakan tonggak awal,” kata Yani, seraya menambahkan bahwa perusahaan berencana mengembangkan model yang nantinya dapat diterapkan pada fasilitas-fasilitas lain.

Terminal LPG Tanjung Sekong, yang dioperasikan oleh PT Pertamina Energy Terminal, memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 98.000 metrik ton dan dapat melayani kapal berbobot mati hingga 65.000 deadweight tons.

Lokasi ini memasok sekitar 35% hingga 40% dari kebutuhan LPG nasional Indonesia, menjadikannya bagian penting dari jaringan distribusi bahan bakar negara.

Langkah PGE ini menyusul penambahan kapasitas pada 2025, termasuk beroperasinya pembangkit panas bumi Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 megawatt. Penambahan tersebut mengangkat kapasitas terpasang yang dikelola langsung oleh PGE menjadi 727 megawatt (MW).

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan Edwil Suzandi mengatakan proyek-proyek tahun lalu menjadi fondasi bagi pertumbuhan selanjutnya. “Integrasi hidrogen hijau dan inisiatif Green Terminal merupakan bagian dari strategi jangka panjang kami menuju target net zero emission Indonesia pada 2060,” katanya dalam email terpisah.

PGE mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW, sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi Indonesia. Perusahaan memperkirakan portofolionya mampu memangkas sekitar 10 juta ton emisi karbon dioksida per tahun.

PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dan 1,8 gigawatt pada 2033, seiring perusahaan memperluas produksi panas bumi dan proyek-proyek terkait.

Join ESGBusiness community
Since you're here...

...there are many ways you can work with us to advertise your company and connect to your customers. Our team can help you design and create an advertising campaign, in print and digital, on this website and in print magazine.

We can also organize a real life or digital event for you and find thought leader speakers as well as industry leaders, who could be your potential partners, to join the event. We also run some awards programmes which give you an opportunity to be recognized for your achievements during the year and you can join this as a participant or a sponsor.

Let us help you drive your business forward with a good partnership!